Cara Guru Mengajar VS. Sosial Media

1:38 PM
Ada suasana yang menghangatkan pagi itu diantara rintik hujan pagi yang sebenarnya kurang menggairahkan tanpa secangkir copi hitam (kopi hitam), ketika seorang teman bercerita kilas  balik, bawah ngajar sekarang sebenarnya tidak perlu repot membawa buku kedalam kelas, cukup  membawa handphone saja!!! ahhh??? aku sedikit terkecang tanpa memberikan sedikit komentar  karena yakin dia pasti akan memberikan ulasan lengkap tentang awal pembicaraan yang baru saja diungkapkan.

Sesaat aku mencuri pikir ( sambil titip minta dipesankan kopi hitam di warung kopersi) , bagaimana kalo anak-anak yang membawa handphone ke sekolah dan tidak usah membawa buku paket/text buku/buku pelajaran dan LKS? karena sebanarnya di sekolah sudah ada akses internet, sudah ada hotspot dengan jangkauan luas,namun masih ada peraturan untuk tidak membawa handphone ke sekolah dan aturan Wajib Laporan bagi siswa yang membawa laptop/netbook  dan tablet?? hihkkkhhkk, mules dech...

"yac... sekarang hampir semua bahan mengajar bisa didapat dari handphone ini, tinggal masuk ke google, terus ketik apa yang moe dicari dan bret... bret.... muncul artikel materi yang  ingin kita ketahui... ungkapnya semangat sambil pemperlihatkan harga handphone yang cuma 300rb an. Pas seperti yang aku prediksi.  Bisa jadi memang untuk memberikan materi ajar di dalam kelas tidak harus menenteng buku  referensi yang banyak, cukup dengan satu tool, yakni handphone! karena sumber informasi dari  handphone, dengan bundle applikasi seperti google, yahoo, bing,you tube , ect. sudah bisa  didapatkan hanya dengan harga 300rb an. sesuatu (bukan ikutan ah) tidak didapatkan oleh  rekan-rekan guru yang sudah mengajar di atas 20 tahunan waktu sekolah. sesuatu penomena yang  memberikan warna lain dunia pendidikan.

Lebih jauh, belakang istilah sosial media dan guru kreatif mulai bermunculan dan rame-rame  mengusung slogan baru di ruang kelas klasik bahwa guru yang tidak memanfaatkan teknologi dan   internet  plus sosial media yang ada didalamnya adalah guru yang GAPTEK, Tidak Kreatif,  Guru jadul, bahkan klaim baru adalah guru bukan mengajar, tetapi belajar- I'm not teaching  but learning!! yac... slogan dan pengakuan yang masuk akal.

Cerita kawan tentang everything on the Internet, mewakili naluri seorang guru untuk dapat mengimplimentasikan penggunaan teknologi di bidang pendidikan, mengajar yang dulu amat menoton, seperti guru yang koar-koar, dan murid harus mendengarkan, ngak boleh ngobrol, harus "pura-pura" serius belajar, guru mengharuskan menyalin tulisan yang ada dipapan tulis, kemudian diperiksa adalah contoh model pengajaran yang akan, dan harus ditinggalkan. Sekarang jamannya Sosial Media-  didefiniskan oleh wikipedia sebagai sebuah media online, dengan para  penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.

Murid sekarang sudah tidak kalah semalam dengan pa Guru atau bu guru, dengan catatan ketika guru akan mengakhir jam mengajar, menyampaikan materi apa yang diberikan untuk pertemuan mendatang, bahkan jika lupa, guru dan siswa masih bisa saling  memberi  dan meminta lewat tulisan di blog, memposting status lewat jejaring sosial adalah satu dari sekian hal yang bisa dilakukan lewat sosial media.

Tapi celakanya, ketika sosial media sudah menjadi bagian yang lumrah,maka batas antara guru dan siswa akan luntur, tidak ada privasi, semua saling tahu, lah.... terus harus gimana????


walah.... kopinya da datang. ngopi dulu ah.... entar bersambung, meski tulisan ini ngak tuntung arah, tapi mudah-mudahan bisa menginsirasi untuk memacu diri memperbaiki diri, mengajar dan  menggali informasi terkini lewat sosial media
Previous
Next Post »

1 comment

  1. wah... abang dah jadi pa guru ya... ngajar dimana bang? o iya, emang guru sekarang harus kreatif, harus lebih pinter-pinter pa lagi sekrang dengan berkembanganya sosial media yang mudah diakses dari handphone... rasanya tugas guru menjadi makin berat... tapi terus la berjuang bang... untuk pendidikan indonesia yang lebih baik...

    ReplyDelete